MAN 1 Kulon Progo

Santri Berlian

Kultum Dhuhur MANSAKU Kupas Sebab-Sebab Diperbolehkannya Tayamum

Kulon Progo (MAN 1 KP) — Salat merupakan ibadah yang memiliki ketentuan dan kemudahan dalam kondisi tertentu. Hal tersebut menjadi salah satu materi yang disampaikan dalam Kultum Dhuhur MAN 1 Kulon Progo dengan tema “Sebab-Sebab Diperbolehkannya Tayamum” yang digelar di Masjid Al Huda madrasah, Rabu (16/9/2026).

Kultum tersebut menghadirkan H. Mustafid Enukhad, S.Ag., M.S.I. sebagai pemateri. Dalam penyampaiannya, ia menjelaskan bahwa tayamum merupakan bentuk kemudahan (rukhsah) dalam pelaksanaan ibadah ketika seseorang menghadapi kondisi tertentu yang menyebabkan tidak dapat menggunakan air untuk bersuci.

Mustafid menjelaskan sejumlah kondisi yang menjadi sebab diperbolehkannya tayamum. Di antaranya adalah ketika seseorang tidak mendapatkan air setelah berusaha mencarinya, penggunaan air dikhawatirkan membahayakan kesehatan, atau terdapat kondisi tertentu yang menyebabkan seseorang tidak mampu menggunakan air untuk bersuci.

Menurutnya, pemahaman mengenai tayamum penting bagi peserta didik agar mereka tidak hanya mengetahui tata cara ibadah, tetapi juga memahami ketentuan fikih yang mendasarinya.

“Tayamum bukan sekadar pengganti wudu ketika tidak ada air. Ada ketentuan dan sebab-sebab tertentu yang harus dipahami agar pelaksanaannya sesuai dengan tuntunan syariat,” jelas Mustafid.

Kegiatan kultum yang dilaksanakan setelah salat Dhuhur tersebut diikuti oleh warga madrasah. Selain menjadi sarana penguatan pemahaman keagamaan, kegiatan ini juga menjadi bagian dari pembiasaan positif untuk membangun karakter religius peserta didik di lingkungan MAN 1 Kulon Progo.

Kepala MAN 1 Kulon Progo, Farida Rahmawati, S.Pd., M.Pd., menyampaikan bahwa kegiatan kultum menjadi salah satu sarana strategis bagi madrasah dalam memberikan penguatan nilai-nilai keislaman kepada peserta didik.

“Kultum Dhuhur menjadi ruang pembelajaran yang dekat dengan kehidupan sehari-hari. Kami berharap melalui materi-materi keagamaan yang disampaikan secara rutin, peserta didik semakin memahami ajaran Islam sekaligus mampu mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari,” tutur Farida.

Ia menambahkan, pembiasaan keagamaan di madrasah tidak hanya diarahkan pada peningkatan pengetahuan, tetapi juga pada pembentukan sikap dan karakter peserta didik.

Melalui Kultum Dhuhur, MAN 1 Kulon Progo terus berupaya menghadirkan pembelajaran keagamaan yang kontekstual dan aplikatif. Materi tentang tayamum diharapkan dapat membekali peserta didik dengan pemahaman yang benar mengenai kemudahan dalam bersuci sekaligus menumbuhkan kesadaran untuk tetap menjaga ketertiban ibadah dalam berbagai kondisi. (mar)