Bali (MAN 1 KP) — Murid MAN 1 Kulon Progo (MANSAKU) belajar mengenal seni pertunjukan Sendratari Kecak sebagai bagian dari rangkaian kegiatan studi budaya ke Bali, Senin–Jumat (26–30/10/2026). Kegiatan ini menjadi sarana pembelajaran untuk memperluas wawasan murid tentang kekayaan seni tradisional Indonesia, memahami nilai-nilai yang terkandung dalam pertunjukan budaya, serta menumbuhkan kecintaan terhadap warisan budaya Nusantara.
Sendratari Kecak merupakan salah satu seni pertunjukan khas Bali yang memadukan gerak tari, drama, irama vokal, dan ekspresi kolektif para penarinya. Pertunjukan ini dikenal melalui lantunan suara “cak” yang diucapkan secara berulang dan berirama oleh sekelompok penari, sehingga menciptakan suasana khas tanpa mengandalkan instrumen gamelan sebagai pengiring utama. Kisah yang ditampilkan umumnya mengambil bagian dari epos Ramayana, termasuk perjalanan Rama, Sinta, dan Hanoman.
Melalui pengenalan Sendratari Kecak, murid MANSAKU dapat mengeksplorasi berbagai aspek budaya, mulai dari sejarah perkembangan seni pertunjukan, unsur gerak dan pola lantai, kekompakan penari, ekspresi artistik, hingga pesan moral dalam cerita yang disampaikan. Murid juga dapat mempelajari bagaimana seni tradisional diwariskan dari generasi ke generasi dan terus dikembangkan agar tetap menarik di tengah perubahan zaman.
Pembelajaran budaya seperti ini penting untuk memberikan pengalaman nyata di luar ruang kelas. Murid tidak hanya memperoleh pengetahuan melalui buku atau penjelasan guru, tetapi juga dapat mengamati secara langsung kekuatan seni sebagai media komunikasi, pendidikan karakter, dan penyampaian nilai-nilai kehidupan. Dari Sendratari Kecak, murid dapat mengambil pelajaran tentang kerja sama, kedisiplinan, tanggung jawab, ketekunan, serta pentingnya menjaga keharmonisan dalam sebuah kelompok.
Kepala MAN 1 Kulon Progo, Farida Rahmawati, S.Pd., M.Pd., menyampaikan bahwa pengenalan seni dan budaya daerah merupakan bagian penting dari pendidikan yang membentuk murid berwawasan luas sekaligus memiliki karakter kuat.
“Studi budaya memberikan kesempatan kepada murid untuk mengenal kekayaan tradisi Indonesia secara lebih dekat. Melalui Sendratari Kecak, murid dapat belajar bahwa seni bukan sekadar hiburan, tetapi juga mengandung nilai sejarah, filosofi, dan pesan moral. Kami berharap pengalaman ini menumbuhkan rasa bangga terhadap budaya bangsa, sikap menghargai keberagaman, serta kesadaran untuk ikut melestarikan warisan budaya Indonesia,” ungkap Farida.
Selain memperkaya wawasan seni, kegiatan ini juga menjadi momentum untuk menanamkan sikap terbuka terhadap keberagaman budaya dan tradisi masyarakat Indonesia. Sebagai murid madrasah, pengalaman tersebut diharapkan memperkuat karakter yang menghargai perbedaan, menjunjung nilai-nilai kebaikan, serta mampu mengambil hikmah dari berbagai bentuk ekspresi budaya tanpa kehilangan jati diri.
Rangkaian studi budaya ke Bali ini menjadi salah satu upaya MANSAKU menghadirkan pembelajaran yang kontekstual, menyenangkan, dan bermakna. Melalui pengenalan Sendratari Kecak, murid diharapkan tidak hanya membawa pulang pengalaman perjalanan, tetapi juga kesadaran bahwa pelestarian budaya merupakan tanggung jawab bersama generasi muda demi menjaga identitas dan kekayaan bangsa. (mar)


Berita lainnya
OSIS MANSAKU Ikuti Pengukuhan Ketua OSIS se-Kulon Progo
Semangat Sumpah Pemuda, Murid MANSAKU Belajar Sejarah di Istana Tampaksiring
Belajar Budaya di Bedugul, Murid MANSAKU Kenali Kearifan Lokal Bali