HUT ke – 44, MAN 1 Kulon Progo Gelar Khataman Qur’an dan Pengajian

Tepat di Hari Ulang Tahun (HUT) MAN 1 Kulon Progo digelar Khotmil Qur’an, Pengajian, dan Tasyakuran dengan Nasi Tumpeng Ingkungan, Kamis (17/3/2022). Kegiatan yang dipusatkan di serambi Masjid al-Huda madrasah setempat menghadirkan da’i K.H. Rofi’uddin Muhammad Luthfi Hakim, S.Ag. (Pengasuh Pondok Pesantren Al-Hidayah Karangwuluh, Temon, Kulon Progo), Kepala Seksi Pendidikan Madrasah Kantor Kementerian Agama Kulon Progo, dan Pengurus Komite MAN 1 Kulon Progo.

Kegiatan yang diiringi Sholawat Nabi oleh group Hadroh Jam’iyah Subbanul Kirom MAN 1 Kulon Progo diikuti oleh seluruh guru dan pegawai (secara luring) serta diikuti oleh seluruh siswa MAN 1 Kulon Progo melalui Channel YouTube Mansaku.

Khataman al-Qur’an dipandu oleh Waka Humas sekaligus Panitia HUT Madrasah, H. Akhmad Khudlori, S.Ag., M.Pd.I. dan dipungkasi dengan Do’a Khotmil Qur’an oleh K.H. Mustafid Enukhad, M.S.I. Usai pengajian dilakukan pemotongan tumpeng oleh Kasi Dikmad Kantor Kementerian Agama Kulon Progo, Muhammad Dwi Putranto, S.Pd. diserahkan kepada Kepala Madrasah yang diwakili Kepala Tata Usaha, H. Surandi, S.Pd.I.

Kepala Madrasah, H. Edi Triyanto, S.Ag., S.Pd., M.Pd. dalam sambutannya menyampaikan beberapa hal berkaitan dengan HUT MAN 1 Kulon Progo. “Hari ini memang bukan atau belum puncak rangkaian kegiatan Hari Ulang Tahun madrasah kita, dan puncaknya Insya Allah akan dilaksanakan pada Kamis (24/3/2022) minggu depan,”tuturnya.

“44 tahun yang lalu, tepatnya 17 Maret 1978, MAN 1 Kulon Progo lahir sebagai pengganti dari SP-IAIN. Angka 17 ini yang kita ambil evennya, karena bilangan 17 adalah sakral. Jumlah rakaat shalat fardlu 17. Al-Qur’an turun pertama pada tanggal 17 Ramadhan. Hari kemerdekaan negara kita juga tanggal 17. Dan hari lahir madrasah kita juga tanggal 17. Hal ini mungkin kebetulan, akan tetapi saya yakin ada hikmah dan rahasia tertentu,” imbuh Edi.

Lebih lanjut Edi berharap hari itu dapat dijadikan sebagai titik awal spirit dan motivasi kinerja bagi warga madrasah. “Maka marilah kita jadikan jumlah rakaat, turunnya al-Qur’an, dan lahirnya madrasah ini menjadi spirit dan motivasi kinerja kita, menjadi dasar kita dalam melahirkan generasi shalih-shalihah, serta menjadi titik awal atau kita niati ibadah,” pungkasnya.

Sementara itu Kyai Luthfi (sapaan akrab  K.H. Rofi’uddin Muhammad Luthfi Hakim, S.Ag) dalam tausiyahnya mengkaji keterkaitan Ilmu dan Etika orang berilmu. “Orang berilmu dalam kehidupan nyata ibarat makanan yang bahan bakunya garam dan tepung. Ilmu ibarat garam dan adab atau etika ibarat tepung. Jika hanya ilmunya yang ditonjolkan maka akan kacau bahkan takabbur, maka etikanya yang harus ditampakkan sehingga akan lembut,” tuturnya.

“Terkait dengan kurun waktu, generasi manusia semakin menjauhi masa Nabi, kualitas ilmu agama/ruhaninya semakin kecil/tipis, walaupun penguasaan sains dan teknologinya semakin tinggi. Karena sebaik-baik kurun waktu adalah waktu di saat Nabi SAW membersamai umatnya secara ruhani dan fisik,” lanjutnya.

Akibatnya, tambah kyai Luthfi, manusia pun akan terbagi menjadi 4 kelompok dalam menyikapi ilmu: yaitu Ahmaq (sangat bodoh) yang tidak sadar dan tidak mau belajar; Jahil (bodoh) yang sadar dan membutuhkan bimbingan; Naim (orang tidur/terlena) yang sudah punya ilmu tapi belum melaksanakannya; dan ‘Alim (orang pandai) yang berilmu dan tahu kewajibannya.

Di akhir ceramahnya kyai Luthi berharap MAN 1 Kulon Progo tidak saja menjadi ‘Majlis Ilmu’ tapi juga sekaligus ‘Majlis Dzikir’. “Rasulullah SAW mencontohkan dan memadukan keduanya. Majlis Ilmu mengasah akal dan logika, sedangkan majlis dzikir mengasah hati. Sehingga keduanya harus seimbang, supaya ilmunya sempurna dan etikanya paripurna,” tegas kyai Luthfi sebelum menutup ceramahnya dengan doa. (khd/***)